in

Warga 62 yang Terlalu Reaktif

Bagikan Berita- Warga 62 yang Terlalu Reaktif. Masyarakat Indonesia atau yang sekarang lagi kekinian biasa menyebut warga 62 belakangan ini mudah sekali tersulut emosinya.

Pemahaman tentang ideologi bangsa yang tidak komprehensif, sehingga belum dapat diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Ditambah penyebaran informasi yang bersifat provokatif hingga mengarah pada fake news menjadi asupan negatif yang dikonsumsi masyarakat hingga memengaruhi pemikiran dan tingkah laku mereka. Hal ini sangat tampak beberapa tahun terakhir, utamanya ketika pre-current-post pemilihan umum legislatif dan eksekutif baik dari tingkat daerah hingga nasional.
Kompleksnya permasalahan ini tak luput dari peran serta kemajuan teknologi yang menyediakan ladang basah untuk tumbuh suburnya cikal bakal permasalahan.

Salah satu permasalahan yang hingga saat ini masih menjadi pekerjaan rumah adalah politik identitias. Politik identitias di Indonesia memang sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan, bahkan dalam memperjuangkan kemerdekaan pun identitas dijadikan sebuah obor penyulut semangat rakyat. Berjuang menegakkan kepala setelah sebelumnya selalu tunduk pada kaki feodalisme dan kolonialisme. Dahulu masyarakat Indonesia bersatu dalam satu identitas sebagai penduduk pribumi, sehingga bersama-sama melawan penjajah atas nama bangsa Indonesia yang ingin merdeka. Saat ini, ketika Indonesia telah merdeka secara de facto dan de jure, mindset sebagian masyarakat Indonesia justru selalu mendikotomikan kelompok dan menjadi bom waktu yang sering meledak ketika terkena sepercik api.

Tak perlu kita tarik contoh terlalu jauh, beberapa tahun terakhir tentang kasus politik identitias (pembahasan politik yang akan diuraikan lebih lanjut tidak terbatas pada sistem pemerintahan namun politik dalam arti yang lebih luas), yang baru saja terjadi dan masih hangat diperbincangkan oleh masyarakat adalah kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada salah satu ulama terkenal dan juga permasalahan perusakan yang dituduhkan pada mahasiswa Papua yang sedang berdomisili di Surabaya. Jika dilihat secara sekilas maka dua kasus ini mungkin jauh berbeda. Namun, jika dianalisis lebih dalam maka terdapat benang merah yang sama, yaitu identitas.

Salah satu ulama besar yang dilaporkan ke pihak berwajib didakwa karena penistaan agama, akibat salah satu ceramahnya yang dianggap menjelekkan agama lain. Sedang kasus persekusi yang dilakukan kepada mahasiswa Papua di Surabaya karena adanya sebuah kesalahan yang belum jelas duduk persoalan dan tersangka yang benar-benar menjadi trouble maker perusakan Bendera Merah Putih tersebut. Dua kasus ini menjadi besar karena tingkat sensitivitas yang begitu tinggi pada masyarakat serta kurangnya rasa toleransi dan kebijaksaan untuk menyelesaikan secara damai.

Identitas “agama” dan “ras” menjadi trigger dua permasalahan tersebut. Memang tidak seluruhnya masyarakat Indonesia menjadi aktor intoleran terhadap identitas kelompok lain. Namun, reaksi yang berlebihan terhadap masalah justru menjadikan kasus semakin ter-blow up dan memberikan dampak buruk yang semakin meluas. Sebagai contoh, gerakan penggunaan hashtag (tanda pagar) dan unggahan yang dilakukan di berbagai media sosial baik bersifat menjelekkan maupun dukungan. Keduanya sama-sama berkontribusi dalam memperkeruh suasana.

Memang terkadang gerakan masif melalui media sosial sangat dibutuhkan. Utamanya dalam mendesak sebuah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Gerakan tersebut dapat disebut sebagai gerakan people power di era digital. Akan tetapi, jika reaksi yang diberikan secara berlebihan menjurus pada identitas kelompok tertentu, justru akan berakibat fatal karena identitas mampu memengaruhi emosional seseorang hingga menjadi penggerak dalam mengambil keputusan. Dapat dianalogikan seperti “kaki yang gatal namun tangan juga ikut tergaruk” rasanya bisa menjadi gambaran permasalahan saat ini.

Ketika emosi masyarakat seperti sumbu pendek dan mudah meledak karena adanya intoleransi terhadap identitas, maka di situlah kesatuan Indonesia perlu dikhawatirkan. Sebagai negara yang “seksi”, Indonesia jelas memiliki daya tarik yang sangat kuat baik dari segi sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang dimiliki. Pernahkah masyarakat luas membayangkan bagaimana jika ternyata setiap kejadian yang terjadi akibat adanya setting-an dari pihak yang ingin melihat Indonesia terpecah belah, sehingga dapat dengan mudah mencapai tujuan yang diharapkan. Apakah ini yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia?

Tak dapat dimungkiri kemungkinan terpecahnya Indonesia, benar akan terjadi apabila ego komunal semakin ditumbuhsuburkan dan semakin jauh dari ideologi bangsa. Ditambah adanya sifat masyarakat Indonesia yang sangat reaktif hingga “latah” dalam menanggapi permasalahan yang terjadi. Indonesia sebagai negara yang memiliki pemerintah dan penegak hukum, maka seyogianya masyarakat harus paham tentang batasan dan kewenangan dalam menjatuhkan suatu hukuman dan tidak bertindak represif serta reaktif. Itu justru akan memperkeruh masalah. Pun jika masyarakat ingin menunjukkan gerakan yang masif melalui media sosial, maka sejatinya perlu paham permasalahan seperti apa yang harus disoroti. Namun, gerakan tersebut juga harus dibarengi dengan kebijaksanaan dalam bermedia sosial dengan tidak menjadi provokator, penyebar hate speech hingga fake news. Sebagai masyarakat yang hidup di negara plural dari segala aspek kehidupan, maka seharusnya seluruh masyarakat Indonesia harus selalu memupuk toleransi, menjaga kebijaksanaan, dan merawat kesatuan agar Indonesia tidak dipandang sebagai negara besar yang rapuh, namun menjadi negara besar yang kuat persatuannya demi menjaga dan mengaktualisasikan nilai-nilai Ideologi Pancasila.

Sumber foto : nusantara news

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Kemenpar Targetkan 1 Juta Kunjungan Wisman ke Borobudur Pada 2020

Pemkot Bandung Luncurkan Gerakan Azan Serentak dan Kalibrasi Arah Kiblat